~* Perantau Akhirah, Musafir Perjuangan *~: July 2007

~* Perantau Akhirah, Musafir Perjuangan *~

Bismillah Ar Rahman Ar Rahim, alhamdulillah, syukur ana rafa'kan ke hadrat Allah SWT kerana dengan izin-Nya, maka ana telah dapat membangunkan sebuah laman sebagai pengantar wadah bicara antara seorang Muslim dengan Muslim yang lain. Semoga usaha ana ini akan diberkati dan dirahmati Allah SWT. Amiin. Salam Ukhwah wa Mahabbah Islamiah daripada ana 'the daughter of Haji Yusof' buat antum sekalian. Yarhamkumullah! ISLAM NO.1 kini dan selama-lamanya, insyaALLAH. ALLAHUAKBAR 3X! Wassalam wbt.

Wednesday, July 25, 2007

Cemburu..penilaian kembali..

.
Paduan Buah Fikir & Suara Karya: Habib Abu Nadia
dan Tarbawi125


Getusan idea lelaman: http://www.elazhar.net/ dan http://www.kotasantri.com

Penyusun editan dan olahan translasi: Bintu Yusof




Sebermula dengan lafaz yang mulia,
BismilLAH Ar Rahman Ar Rahim
diharapkan penggarapan nukilan penulisan ini ada manfa’atnya
bukan sahaja buat diri saya bahkan saudara/ri seaqeedah yang
dirahmati ALLAH Ta’ala sekalian, insyaALLAH.

ALLAHumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala
aalihii wasohbihi wa baarik wassalim. AlhamdulilLAH
..

Saudara/riku, ...
Hingga saat ini, ketika mata kita membaca kalimat demi kalimat
tulisan ini, pernahkah kita berfikir setinggi mana titik keutamaan
yang ada dalam jiwa, antara keredhaan ALLAH Ta’ala dan
kehendak nafsu kita? Antara kemestian tunduk total
pada Allah Ta’ala
dan hasrat kita yang bertolak
belakang dengan ketundukan pada Allah Ta’ala
?

Penting sekali masalah seperti ini menjadi bahan perenungan
rohani kita, sementelahan bila mana insani lebih cenderung
memenuhi hasrat duniawi , secara tidak langsung ia juga
meminimalkan keta’atan dan ketundukan kepada ALLAH Ta’ala.
Keadaan ini ada digarapkan pada siratan nasihat seorang salafus
sholih
yang bernama Malik bin Dinar rahimahulLAH.
Yang maksudnya:

Sebesar mana kadar kesedihanmu untuk urusan
dunia, maka sebesar itu pulalah akan terusir obsesi
akhiratmu. Samalah jua dengan sebesar mana kadar kegelisahanmu untuk urusan akhirat, maka sebesar
itu pulalah akan terbuang obsesi duniamu
.”


Saudara/riku yang tak pernah terputus
dari rahmat Allah
, ...
Tidak ada yang lebih cemburu daripada ALLAH Subahanahu
wa Ta’ala
kepada hamba-NYA yang mengikuti keinginan
selain-NYA. Perhatikanlah sabda Rasulullah s.a.w. yang
bermaksud:

"Sesungguhnya ALLAH cemburu dan orang berIman
pun cemburu. ALLAH akan cemburu apabila seseorang
melakukan apa yang di haramkan
."

(HR. Ahmad, Muslim)

Kecemburuan ALLAH SWT, seperti disabdakan oleh Rasulullah
SAW
adalah ketika ada hamba yang lebih mengutamakan makhluk
dari-
NYA. Kecemburuan ALLAH SWT bahkan lebih besar ketimbang manusia yang paling cemburu. Sehingga pernah suatu
saat, ketika terjadi gerhana matahari, Nabi shallallaahu alaihu
wa sallam
bersabda di dalam khutbahnya yang bermaksud,

"Wahai umat Muhammad, tidak ada seorang pun yang
lebih cemburu dibanding ALLAH
."

(Muttafaq 'alaih).

Saudara/riku, ...
Rasulullah SAW itu juga pencemburu. Lalu, suami sholih
dan istri sholihah
juga pencemburu. Suatu ketika, Sa'ad bin
Ubadah
berkata, "Seandainya aku menemukan seorang
laki-laki bersama isteriku tentu aku tebas ia dengan
pedang, bukan dengan lempengnya tetapi dengan mata pedangnya
".





Maka Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda
yang bermaksud, "Apakah kalian merasa hairan dengan kecemburuan Sa'ad? Sesungguh-nya aku lebih cemburu
dibanding dia, dan ALLAH lebih cemburu dibanding aku
."

(Muttafaq 'alaih)

Para shahabat nabi benar-benar berpegang teguh
kepada sikap (rasa) kecemburuan
ini, kerana cemburu
(ghirah) mempunyai kedudukan yang sama dengan kewajiban
dan cabang-cabang Iman lainnya. Manakala tentang
kecemburuan isteri sholihah, suatu saat Rasulullah SAW
bertanya kepada Aisyah r.a.,

"Apakah engkau pernah merasa cemburu?"

Aisyah Menjawab,

"Bagaimana mungkin orang seperti dirirku ini tidak
merasa cemburu jika memiliki seorang suami seperti
dirimu."


(HR. Ahmad di dalam Musnadnya dan Iman Muslim).


Saudara/riku, ...
Mukmin yang shalih juga pencemburu. Ibnu Hisyam meriwayatkan, bahawa ada seorang wanita Arab membawa
barang dagangannya untuk dijual di Pasar Bani Qainuqa'
(salah satu suku Yahudi Madinah). Ia duduk berdekatan dengan
tukang perhiasan emas dan perak. Lalu sekelompok orang Yahudi
datang dan bermaksud akan menyingkap wajahnya, namun wanita
itu menolak keras. Kemudian, secara diam-diam si tukang perhiasan
tadi mengikatkan ujung pakai wanita itu ke punggungnya,
sehingga ketika si wanita itu berdiri auratnya tersingkap dan ia
pun berteriak. Mendengar jeritan itu, seorang lelaki
Muslim melompat menyerang dan menindih lalu
menghabisi nyawa tukang perhiasan jahat tadi.

Akibatnya, sekelompok orang Yahudi menge-royok lelaki
Muslim itu hingga tewas.

Mendengar peristiwa itu, Rasulullah Shallallaahu
alaihi wa Sallam langsung berangkat bersama
sejumlah pasukannya dan mengepung Bani Qainuqa'
,
sehingga akhirnya mereka menyerah dan Nabi mengusir
mereka ke Negeri Syam
. Para ulama terdahulu (salaf)
dan kaum Muslimin menjunjung tinggi sikap mulia
ini (cemburu), mereka tidak pernah menganggapnya remeh meskipun di dalam masa-masa tertindas.


Ketika kaum salibis Nasrani menjajah sebahagian negeri mereka
selama hampir dua abad lamanya, suatu rentang waktu yang
cukup panjang dan kondisi kaum Muslimin telah dianggap rapuh
serta lemah, sedang-kan kaum salibis kuat dan akan tetap tinggal
di negeri jajahan itu sampai turunnya Isa al-Masih. Namun
kenyataannya, kaum Muslimin tetap tegar memegang
teguh sikap (rasa) kecemburuan
. Sementara itu, kaum
Nasrani salibis sama sekali tidak mempunyai rasa
cemburu
(dayyuts). Seorang di antara mereka berjalan-jalan
bersama isterinya, lalu di tengah jalan sang isteri berjumpa
dengan teman lelakinya, maka sang suami menyingkir untuk
memberi kesempatan kepada isterinya bersukaria dengan lelaki
tadi.



Semoga ALLAH Ta’ala melindungi kita. Sungguh sangat memprihatinkan, di negara kita yang majoriti penduduknya
Muslim ini sudah terlalu jauh meninggalkan rasa cemburu. Pergaulan bebas dan berbaur antara laki-laki dengan perempuan
yang bukan mahram sudah menjadi tradisi, bahkan banyak
orang tua yang membiarkan puteri-puteri mereka
keluar malam bersama lelaki
(kawan/teman lelaki) hingga
larut malam. Dan yang lebih parah lagi adalah adanya sebahagian
orang tua yang membiarkan puteri-puteri mereka hamil di luar
nikah tanpa ada rasa malu sedikitpun, apa lagi mau cemburu!
Malah bangga, karena puteri mereka sudah mempunyai
teman lelaki (boyfriend),
dengan alasan gaul/sosial.

Padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam
telah bersabda, yang ertinya:

"Ingatlah! Tiada seorang lelaki yang berdua-duaan
dengan seorang wanita melainkan syaitanlah yang
menjadi pihak ketiganya
."

(Riwayat Ahmad dan at Tirmidzi)

Sebahagian lagi ada yang acuh tak acuh, bahkan bangga
kalau puterinya berpakaian setengah badan lagi span,
hingga tampak seksi dan menggiurkan lawan jenisnya. Na'udzubillah
. Sungguh betapa makin jauh umat ini dari akhlaq
yang mulia dan dari tuntunan agamanya, termasuk di antaranya rasa cemburu. Termasuk bentuk terkikisnya rasa cemburu
adalah seorang laki-laki membiarkan isteri atau wanita
yang menjadi tanggung jawabnya ke luar rumah dengan membuka pakaian hijab/jilbab
, menampakkan sebahagian auratnya atau menampakkan bentuk tubuh dan warna
kulitnya
. Termasuk juga membawa isterinya ke tempat
-tempat umum yang terjadi ikhtilat
di sana seperti pesta
-pesta, sehingga isterinya menjadi sorotan dan sasaran pandangan
kaum lelaki, juga membiarkan mereka melakukan safar
(perjalanan jauh) tanpa disertai mahram.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda,
ertinya,

"Jangan sekali-kali seorang lelaki berduaan dengan
seorang wanita, melainkan dia beserta mahramnya
dan janganlah seorang wanita itu melakukan safar,
kecuali bersama mahramnya
." Maka seorang laki-laki
berdiri dan berkata, "Wahai Rasulullah sesungguhnya
isteriku pergi haji, sedangkan aku sendiri telah
diwajibkan ikut di dalam peperangan ini dan ini
,"
maka baginda s.a.w. bersabda, ertinya, "Pergilah
berangkat haji bersama isterimu
."

(HR al Bukhari-Muslim)

Saudara/ri seaqeedah yang dirahmati ILAHI,
Salah satu sifat lelaki yang sholih adalah pencemburu,
kerana hal itu mengisyaratkan adanya perasaan cinta.
ISLAM memuji lelaki yang memiliki rasa cemburu dan
mencela orang yang tidak memilikinya.
Selain
menganjurkan rasa cemburu, ISLAM juga memberikan
batas-batasnya.
Yang mana bila batas-batas ini dilanggar,
rosaklah kebahagian rumah tangga. Suami yang sholih
harus mampu memahami hal ini, agar dapat mewujudkan
kehidupan yang sakinah, mawadhah, dan rahmah.
Memang haruslah demikian agar seorang Mukmin mempunyai
sifat dan berperangai Ilahiyah dan Nabawiyah ini. Adapun
orang yang tidak mempunyai rasa cemburu, dia tidak dapat menjaga kehormatan isterinya/suaminya. Ia sekadar bersikap acuh tak acuh
apabila mendapati isterinya bersolek dan memakai minyak wangi
ketika akan pergi ke tempat umum, mempamerkan rambutnya, memperlihatkan tubuhnya/auratnya, dan berbicara dengan
dibuat-buat agar menarik perhatian.

Perbuatan seperti itu adalah perbuatan tercela sebagai
mana dalam sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi
wa Sallam
, yang maksudnya:

" Tiga golongan yang bakal tidak masuk syurga :
orang yang derhaka terhadap ibu bapanya, Duyuts
(orang yang tidak mempunyai rasa cemburu),
dan perempuan yang menyerupai laki-laki
."

( HR. Nasai dan Hakim).


Saudara/riku,
Pesona wanita muncul bukan dengan menampakkan auratnya
atau bergaul dengan serba bebas. Bukankah ALLAH TA’ALA
telah menurunkan pakaian untuk menutupi aurat dan menjadikannya
indah untuk perhiasan. Dan pakaian Taqwa itulah yang terbaik .
Lebih dikenal dalam dunia tarbiyah, wanita yang demikian disebut
akhwat (baca; wanita sholihah), untuk membedakan dengan
wanita yang ammah.

Renungi firman ALLAH Subahanahu wa Ta’ala yang
bermaksud:

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian
indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang
paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari
tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka
selalu ingat
.”

(Surah Al A’raf; 7:26)





Dari analisis psikologi, sebenarnya para akhwat berjilbab
itu lebih menarik dan mempesona bagi semua laki-laki
normal
. Hal ini kerana dalam diri laki-laki ada identifikasi bahawa
calon isteri mereka kelak harus mempunyai sifat ‘aqeedah,
dan akhlaq yang baik
. Perlu diperhatikan bahawa jilbab bukan
lakon sandiwara yang membuat seseorang menjadi orang lain saat memakainya. ISLAM tidak menghapuskan karakter-karakter khas
dari peribadi pemeluknya yang tidak bertentangan dengan ‘aqeedah
ketika ia memutuskan berISLAM.

Laki-laki seharusnya juga tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan keadilan syariat ALLAH Subahanahu
wa Ta’ala
. Menjaga tanpa mengekang, menghormati kebebasan
namun tetap melindungi, serta memberikan rasa nyaman sekaligus
aman. Tentunya dengan naungan sebuah pernikahan.

Firman ALLAH subahanahu wa Ta’ala yang bermaksud:

Dan kahwinkanlah orang-orang yang sendirian di
antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkahwin)
dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba
-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka
miskin ALLAH akan memampukan mereka dengan
kurnia-NYA. Dan ALLAH Maha luas (pemberian-NYA)
lagi Maha Mengetahui
.”

Surat An Nur ayat 32 tersebut menekankan pernikahan
sebagai penjagaan para pemuda dan pemudi dari gejolak-gejolak
yang luar biasa yang mereka alami di usia lembabnya. Tentu
dengan persiapan yang matang. Namun ketakutan terbesar
untuk menikah adalah pada persiapan kewangan (financial).
Dan bukankah ALLAH akan membuat mereka kaya
dengan karunianya ?


Ketika aturan-aturan ALLAH Subahanhu wa Ta’ala dilanggar,
ketika ISLAM dan kaum Muslimin dianiaya dan dilecehkan,
seharusnya hal itu membangkitkan rasa cemburu kita,
untuk selanjutnya bangkit dan membela kehormatan
ISLAM dan kaum Muslimin
, di manapun mereka berada.





Agaknya rasa cemburu terhadap agama sudah mulai
luntur dalam kehidupan masyarakat saat ini
. Sebahagian
mereka tidak lagi cemburu ketika para isterinya bercengkrama
dengan laki-laki lain, atau malah sang suami yang memberikan
ruang dan waktu untuk terjadinya hal itu. Tidak ada rasa cemburu
ketika anak perempuannya keluar berduaan entah ke mana dengan
laki-laki asing yang bukan mahramnya, apalagi cemburu
saat ISLAM dan kaum Muslimin dihina dan diserang
oleh para penjajah kafir, seperti saat ini
.

Sampai bilakah Umat ini akan terus dizalimi?
Sampai bilakah Umat ini akan terus teranianya tanpa
mampu berbuat apa-apa, akankah kita hanya menunggu keajaiban atau kita harus berbuat, melakukan sesuatu,
dengan kecemburuan kita?


...fikir-fikirkanlah...saamihni 'ala kulli hal,
inni al faqiirah ila ROBBIha, 10 Syaaban 1427H-Auckland.
Wassalamu bilkhair ajma'in, bersama do'akan UMMAH!

Tuesday, July 03, 2007

Adab Bagi Pendidik dan Penuntut Ilmu

.



Penulisan Asal: Akh AbdulLAH (jilbab.or.id)
Pengeditan, translitasi dan pembetulan
kecil isi bahasa:
Bintu Haji Yusof

~*~ ~*~ ~*~ ~*~ ~*~ ~*~ ~*~ ~*~ ~*~ ~*~


Adab utama yang harus dimiliki oleh seorang ahli ilmu dan penuntut ilmu adalah: ikhlas mencari keredhoan ALLAH semata dan bermaksud untuk menghidupkan DEEN ini dengan mencontohi Rasulullah shalallohu `alaihi wa salam dalam segala tingkah lakunya.

Begitu pula dalam proses belajar dan mengajar harus berniat mencari keredhoan ALLAH semata agar ALLAH menghilangkan kebodohan dan kegelapan dari dirinya dengan ilmu yang bermanfaat (maraji' hal28).





Seorang pendidik haruslah sabar ketika mengajar dan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan pemahaman kepada setiap siswa sesuai dengan kemampuan otaknya. Janganlah memberikan tugas yang tidak mampu dipikul siswanya, seperti menyibukkan untuk terlalu banyak membaca. Berilah motivasi kepadanya untuk mengikuti pelajaran secara rutin dan sering-seringlah memberi pertanyaan dan mengujinya.

Selain itu juga hendaklah melatihnya untuk mengkaji masalah-masalah tertentu agar dapat mengenalpasti dan menguasai permasalahan, serta dibantu dengan menjelaskan hikmahnya, tempat-tempat pengambilannya, dari ushul syariat yang mana masalah tersebut diambil. Pengenalan akan ushul dan kaedah-kaedah, berikut contoh-contoh permasalahannya dengan pelbagai macam ragamnya merupakan salah satu teknik pengajaran yang paling bermanfaat.





Penuntut ilmu akan bertambah semangat dan bertambah kuat pemahamannya setiap kali ia merasakan nikmat dalam memahami apa yang ia pelajari dan ketika mendapatkan kemudahan dalam mencari rujukan. Begitu pula bagi seorang pendidik hendaknya membuka pemahaman siswa dengan seringnya diadakan pembahasan dan soal jawab.

Menampakkan kegembiraan apabila ditanya atau ketika siswa mengutarakan hal-hal yang membingungkan atau apabila siswanya membantah apa yang disampaikan. Semua itu dalam rangka mengambil manfaat dan mencari kebenaran, bukan untuk membela ucapan yang ia katakan atau untuk mempertahankan pendapat yang ia pegangi.

Apabila ada orang yang dibawah dia dalam segi ilmu memberitahu pendapat dia yang salah, hendaklah dia berterima kasih kepadanya dan membahasnya secara bersama-sama dengan maksud mencapai kebenaran yang sesungguhnya, bukan untuk mempertahankan jalan yang dia tempuh selama ini.





Rujuknya seorang guru kepada pemahaman siswanya -yang lebih mendekati kebenaran- lebih menunjukan kepada keutamaannya, ketinggian kedudukannya dan kebaikan akhlaknya serta kemurnian niatnya yaitu ikhlas mencari keredhoaan ALLAH TA’ALA.

Apabila dia belum sampai kepada kedudukan seperti ini, maka biasakanlah dirinya untuk berbuat demikian dan melatihnya, kerana dengan kebiasaan akan menghasilkan kemampuan dan dengan latihan akan meningkatkan derajatnya kepada kesempurnaan.





Seorang penuntut ilmu haruslah mempunyai adab yang baik terhadap gurunya, bersyukur kepada ALLAH yang telah memudahkan baginya mendapatkan seorang yang mendidiknya dengan ilmu padahal sebelumnya ia berada dalam kebodohan.

Bersyukurlah kepada ALLAH yang telah berjasa menghidupkannya dari kematian dan membangunkannya. Hendaklah ia mempergunakan kesempatan emas ini dengan mengambil ilmu darinya setiap waktu.





Seringlah berdoa kepada ALLAH memohon kebaikan bagi gurunya baik saat berjumpa dengannya ataupun pada saat dia tidak ada kerana Nabi shallallhu `alaihi wa sallam bersabda:

'' Siapa yang telah berbuat baik kepada kalian, maka balaslah kebaikannya. Apabila kalian tidak mendapatkan sesuatu untuk membalas budi kepadanya, maka doakanlah (memohon kebaikan) untuknya sehingga kalian berpendapat telah membalas budinya ''

(HR.Ahmad 2/68,Abu Daud 1672,Nasa`i 5/82,Bukhari dalam buku Al-Adab Al-Mufrad 216, Ibnu Hibban 3408, Al Hakim 1/412 dan 2/13, At-Thayalisi 1895 dan selain mereka dari hadith Abdullah bin Umar bin Khattab radhiallohu `anhuma).

*Derajat hadith itu shahih (Syaikh Ali Hasan)





Kebaikan apakah yang lebih agung kalau bukan kebaikan berupa ilmu dan setiap kebaikan tidaklah langgeng kecuali kebaikan berupa ilmu, nasihat, dan bimbingan.

Setiap perkara yang bermanfaat bagi manusia -yang sampai kepada seorang siswa atau yang lainnya- maka hal itu termasuk kebaikan dan amal jariyah bagi si pemiliknya.





Seorang kawan telah memberitakan kepadaku, bahawa dia pernah berfatwa mengenai satu masalah dalam hal ilmu faraidh (ilmu waris) dan syaikh (guru)nya yang telah mengajarkan hal tersebut telah meninggal dunia. Lalu dia bermimpi melihat syaikhnya sedang membaca di kuburnya dan berkata :

''Masalah yang engkau fatwakan itu, pahalanya telah sampai pula kepadaku''.

Hal ini sebagaimana terdapat dalam sabda Nabi shallallhu `alaihi wa sallam :

''Barangsiapa mempelopori jalan yang baik, maka bagi dia pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat''

(HR.Muslim 1017)





Seorang penuntut ilmu haruslah haruslah bersikap lemah lembut terhadap gurunya, sopan ketika bertanya dan janganlah bertanya kepada gurunya pada saat dia sedang gusar, atau dalam keadaan penat atau marah. Ini agar dia tidak mempunyai pemikiran yang menyalahi kebenaran pada saat kacau pikirannya, atau paling tidak nantinya akan memberikan jawaban yang kurang lengkap.

Apabila seorang penuntut ilmu mendapatkan gurunya berbuat kesalahan, maka janganlah menyebutkan kesalahan tersebut secara terus terang. Tetapi betulkanlah kesalahan dia dengan cara bertanya dan bersikap sebagai seorang siswa terhadap gurunya.





Hendaklah hal itu dilakukan berulang-ulang sampai terang bagi sang guru mana yang benar, kerana kebanyakan manusia apabila kau tegur langsung kesalahannya, kecil sekali kemungkinan untuk rujuk, berat bagi dia untuk mengakui kesalahan, kecuali orang yang telah menguasai dirinya dan menghiasinya dengan akhlak yang terpuji.

Orang seperti ini tidak akan tersinggung apabila pendapat dia dikritik atau ditegur secara langsung. Akan tetapi jenis orang seperti ini jarang sekali. Hanya dengan tawfiq ALLAH- lah, kemudian dengan melatih jiwa untuk menekan ego emosi, barulah orang tersebut akan mempunyai jiwa besar dengan mengakui kesalahannya dan rujuk kepada kebenaran (Hal 30-34)





Seorang guru haruslah memperhatikan kecerdasan dan kemampuan siswanya dalam menerima pelajaran. Janganlah ia membiarkan siswanya dalam menerima pelajaran. Janganlah ia membiarkan siswanya menyibukkan diri dengan buku yang tidak sesuai untuknya.

Jika ia membiarkan saja, bererti dia tidak memberikan nasihat kepada siswanya. Sesungguhnya ilmu yang sedikit disertai dengan adanya pemahaman dan pengertian lebih baik daripada ilmu yang banyak tetapi berisiko tinggi untuk difahami dan besar kemungkinannya untuk lupa.





Begitu pula ketika ia menyampaikan pelajarannya hendaklah disertai dengan penjelasan yang disesuaikan dengan pemahaman dan daya tangkap siswanya. Janganlah mencampur adukkan masalah antara yang satu dengan yang lainnya.

Janganlah pindah dari masalah satu ke masalah lainnya sebelum bahagian pelajaran itu dikuasainya dengan baik. Karena antara satu bahagian pelajaran dengan bahagian pelajaran lainnya itu saling berkesinambungan, sehingga akan memudahkan baginya untuk memahami bahagian pelajaran berikutnya.

Kalau tidak demikian, bererti akan menyia-nyiakan yang pertama dan tidak dapat memahami yang berikutnya. Kemudian semakin berlonggokan masalah-masalah yang tidak dikuasai, sehingga ia akan bosan dan sempit dadanya untuk mengulang-ulang masalah tersebut. Oleh sebab itu janganlah perkara ini diremehkan.





Seorang guru hendaklah selalu memberikan nasihat kepada siswa semaksimal mungkin dan harus bersabar atas kelambatan siswa dalam hal pemahaman. Demikian pula bersabar atas kelakuan siswanya yang tidak baik atau kurang ajar dengan dengan penuh perhatian dan pemantauan untuk memperbaiki dan meluruskan adabnya (hal 42-43)

Hendaklah seorang penuntut ilmu duduk dengan sopan di hadapan gurunya, menampakkan kebutuhannya yang sangat kepada ilmunya dan mendoakan kebaikan untuknya pada saat bertemu dengannya, ataupun di saat tidak bertemu.





Apabila seorang guru sedang memberikan faedah atau sedang menjelaskan hal-hal yang membuat bingung siswanya, maka janganlah ia menampakkan bahwa ia telah mengetahuinya sebelumnya, meskipun sebenarnya ia telah mengetahuinya. Akan tetapi hendaklah ia mendengarkan keterangan gurunya tersebut dengan serius.

Hal ini apabila dia telah mengetahui sebelumnya, maka bagaimana dengan keterangan gurunya yang belum ia ketahui? Adab seperti ini baik sekali untuk dipraktikkan terhadap setiap orang baik dalam masalah ilmu ataupun percakapan lainnya, baik dalam masalah DEEN mahupun dalam masalah keduniaan.





Apabila sang guru berbuat kesalahan dalam suatu hal, maka hendaklah penuntut ilmu menegurnya dengan penuh lemah lembut sambil memperhatikan situasi dan kondisi. Janganlah mengatakan kepadanya:

''Engkau telah berbuat salah! Sesungguhnya yang benar bukan seperti yang engkau katakan!''

Tetapi hendaklah menegurnya dengan kata-kata yang sopan, menjadikan seorang guru sedar akan kesalahannya tanpa ada rasa gusar di hatinya. Cara seperti ini merupakan keharusan dalam bersikap terhadap seorang guru dan lebih mengena untuk sampai kepada kebenaran.

Kritikan yang disertai dengan adab yang buruk akan membuat hati orang yang dikritik menjadi gusar, sehingga akan menghalanginya untuk dapat menangkap pemahaman yang benar dan menghalanginya untuk mengetahui maksud baik orang yang menegurnya.





Sebagaimana hal tadi merupakan keharusan sikap penuntut ilmu terhadap gurunya, maka haruslah bagi seorang guru apabila berbuat kesalahan agar rujuk kepada kebenaran.Meskipun sebelumnya ia telah menyampaikan satu pendapat kemudian terbukti bahwa pendapat tersebut salah, maka ia tidak segan-segan untuk rujuk kepada kebenaran karena sikap ksatria tadi merupakan tanda keadilan dan kerendahan hatinya terhadap kebenaran, baik yang datang dari anak kecil maupun orang dewasa.

Termasuk nikmat yang ALLAH berikan kepada seorang guru, ia mendapatkan dari para siswanya yang mahu menegur kesalahannya, membimbing kepada kebenaran, sehingga kebodohan yang telah menyelimutinya selama ini menjadi lenyap.

Maka seharusnya ia bersyukur kepada ALLAH TA’ALA kemudian berterima kasih kepada orang yang menasihatinya, baik ia seorang siswa atau selainnya, kerana teguran orang tadi, alhamdulilLAH, ia mendapatkan hidayah ALLAH subhanahu wa ta`ala (hal 48-49).





Di antara sifat yang paling mulia yang harus dimiliki oleh ahli ilmu (dan penuntut ilmu) adalah mempraktikkan apa yang ia sampaikan; yang berupa akhlak yang terpuji dan membuang segala akhlak yang hina. Mereka adalah orang-orang yang paling utama untuk menjalankan segala kewajiban baik lahir mahupun yang batin dan meninggalkan segala hal-hal yang haram, oleh sebab mereka memiliki keistimewaan berupa ilmu pengetahuan yang tidak dimiliki oleh selain mereka.

Juga oleh sebab mereka adalah teladan manusia. Manusia pada dasarnya selalu mencontoh ulama mereka dalam kebanyakan urusan baik diakui atau tidak. Juga oleh sebab sebarang protes dan kecaman atas mereka apabila perbuatan mereka bertentangan dengan apa yang mereka katakan jauh lebih besar dipandang umum daripada kecaman yang dilontarkan kepada selain mereka atas perbuatan yang sama.

Para salafus shalih dahulu memperoleh ilmu, juga dengan mempraktikkan ilmu tersebut. Apabila ilmu itu diamalkan akan menempel langsung dan bertambah serta banyak barakahnya. Sebaliknya apabila ilmu tersebut tidak diamalkan maka akan hilang dan tidak membawa barakah.





Ruh ilmu dan kehidupannya serta tonggaknya hanya dengan mengamalkannya dengan akhlak yang terpuji, dengan mengajarkannya dan memberi nasihat. Tidak ada daya serta upaya kecuali dengan pertolongan ALLAH Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.







Ma’araji:

Al-Mu`in `ala Tahshil Adabil `Ilmi wa Akhlaqil Muta`allimin, karya Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid yang dikumpulkan dari buku Al-Fatawa As-Sa`diyah, penerbit Dar As-Shumai`i,Riyadh,Saudi Arabia,cet I th.1413H/1993)



~*~ ~*~ ~*~ ~*~ ~*~ ~*~ ~*~ ~*~ ~*~ ~*~


p/s:

Assalamu’alaikum wbt, syukur kehadrat ILAHI dengan izin-NYA dikaruniakan kesenggangan atas diri untuk meneruskan kembara bacaan juga bedah ‘ilmiah dalam keberadaan yang tiada seberapa buat diri ini yang nyatanya masih punya banyak kelemahan yang perlu dikoreksi dari masa ke masa, insyaALLAH.





Pelbagai orak arik kehidupan telah ditempuhi dan kebelakangan ini banyak benar ujian ILAHI menduga diri selaku seorang perantau akhirah, musafir perjuangan, namun alhamdulilLAH tiadalah diri ini merasa kecewa atas segalanya itu sebaliknya lafaz kesyukuran pada-NYA dan istighfar insyaALLAH takkan lekang membasahi bibir.

Ana akhiri coretan kalam ana kali ini dengan sebingkis hadith yang amat besar makna dan perhatiannya buat diri ana bahkan insyaALLAH kita semua, moga ada khairnya, insyaALLAH:


Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:




"Barang siapa yang memulai mengamalkan suatu metode/amalan baik dalam agama Islam, maka baginya pahala amalannya itu, dan pahala seluruh orang yang menirunya, tanpa sedikitpun mengurangi pahala mereka. Dan barang siapa memulai mengajarkan/ mengamalkan amalan buruk dalam agama Islam, maka baginya dosa amalannya itu dan amalan seluruh orang yang menirunya, tanpa sedikitpun mengurangi dosa mereka”.

(Riwayat Muslim, 2/704, hadits no: 1017).


AlhamdulilLAH, saamih ni ‘ala kulli hal. Bersama do’akan kesejahteraan & kejayaan UMMAH!

BarakalLAHUlakunna!

Wassalamu bilkhair ajma’in.


Al faqiirah ila ROBBIha,
Bintu Haji Yusof,
8 Jumada al Awwal 1427H
TRC, Downtown, Auckland, NZ.


Powered by ClockBot.com }